Mei 11, 2012

#7HariMendongeng: Gitar Melody


“Gitar Melody”
oleh Meutia Keumala Bachnar
Lagi! Ini udah hari ke-3 dan ini udah kedua kalinya saya ikutan proyek #7HariMendongeng. Di hari ketiga ini temanya adalah barang warisan. Mungkin kali ini lebih matang karena saya mikir idenya dari pagi sampai jam 8 malem tadi, tapi gak tau deh seperti apa jadinya cerita dongeng satu ini. Fyi aja, saya bikin ini terinspirasi abis ngeliat sosok artis Korea yang debut di Jepang. Namanya Juniel. Dia menginspirasi saya buat nyiptain tokoh Melody disini. Dan sekedar rekomendasi aja, dengerin lagu Juniel – Falling in Love atau Juniel – Like a Star karena saya buat cerita ini sambilan dengerin tuh dua lagu ^^~
____________________________________________________________________

Pada suatu hari di sebuah gubuk tua di kaki gunung Mounty, hiduplah seorang kakek tua bernama Bastian. Bastian dulunya adalah seorang musisi jalanan kota Archel yang banyak dikenal orang karena kemahirannya dalam menjadikan benda apa saja sebagai alat pengiring musiknya. Tapi seiring pertambahan usia, perlahan tubuh Bastian melemah dan jatuh sakit—hingga membuatnya tak dapat bermain musik lagi.
     Pada umurnya yang telah menginjak tiga perempat abad itu, Bastian hanya ditemani oleh seorang anak angkat perempuan yang diberinya nama Melody. Melody hadir dalam kehidupan Bastian sejak ia masih sangat kecil. Kedua orangtua kandung Melody menitipkannya di depan pintu rumah Bastian kala itu. Bastian, yang tak tega untuk membiarkan Melody hidup sendiri, memutuskan untuk merawatnya. Dengan penuh kasih sayang, Bastian pun merawat Melody sampai sekarang—Melody telah tumbuh menginjak masa remajanya.
***
“Ayah” panggil Melody di pagi itu, membuat Bastian menolehkan kepala ke arah suara lembut yang baru saja menyapanya tadi. “Apa yang sedang kau lakukan di luar, Ayah? Bukankah diluar sangat dingin? Nanti kau bisa sakit”
     Bastian tersenyum dan beranjak bangun dari kursi goyang yang sudah didudukinya sejak dua jam yang lalu. Sambil berjalan ke arah Melody, Bastian pun menjawab. “Salahmu sendiri. Kau bangun terlambat lagi, Melody. Ayah harus menunggumu untuk membuat teh di pagi buta ini”
     “Ah, maaf Ayah, semalam aku tidak bisa tidur...”
     Bastian merangkul bahu anak angkatnya itu, mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam gubuk yang mereka huni, lalu duduk berhadapan pada sebuah bangku tempat mereka makan setiap harinya.
     Pagi ini, Melody memasakkan telor mata sapi kesukaan Bastian, ayah angkatnya. Bukan hanya itu saja, Melody bahkan membuatkan teh dengan campuran bunga melati untuk Bastian. Bastian memandangi sarapan favoritnya yang tersaji di atas meja saat itu, lalu bertanya, “Apakah hari ini ada sesuatu yang spesial, Anakku?”
     Melody yang tengah menuangkan teh dengan aroma melati ke dalam gelas milik Bastian memilih untuk diam sebentar. Setelah duduk, Melody pun menjawab pertanyaan Bastian—tanpa memandangi ayah angkatnya itu. “Ayah... Aku... Aku sangat senang tinggal bersamamu. Tapi, aku benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan kedua orangtuaku saat ini...”
     Bastian menghentikan semua kegiatan yang ia lakukan saat itu. Ia beranjak pergi meninggalkan Melody sendirian di meja makan. Ia merenung kembali di kursi goyang yang ada di teras gubuknya. “Tsk... Setelah kehilangan seluruh kemampuan bermusikku, apakah aku harus kehilangan, Melody-ku?”
     Bastian melangkah pergi meninggalkan kediamannya. Ia berjalan jauh menyusuri padang rumput luas yang ada di kaki gunung Mounty. Setelah lama berjalan, Bastian memilih untuk merebahkan badannya di bawah sebuah pohon beringin besar. Perlahan, matanya mulai tertutup dan ia mulai terbawa ke alam mimpi.
***
“Bastian, tak seharusnya kau menahan Melody”
     Suara lembut itu mampir ke telinga Bastian. Ia menoleh, “S-Siapa k-kau?”
     “Aku adalah seorang peri” sesosok makhluk mungil bersayap itu mulai terbang mengelilingi Bastian. “Namaku Rhyme. Aku peri musik, akulah yang memberimu kesempatan untuk merasakan nikmatnya bermusik”
     “—Lalu, setelah kau memberikannya padaku, kenapa kau malah mengambilnya kembali?” tanya Bastian, memotong pembicaraan Rhyme, si Peri Musik.
     Rhyme tertawa. “Bastian... Bastian... Segala sesuatu memiliki akhiran. Kalau pada awalnya kau jago bermusik, ada saatnya kau kehilangan itu. Ya, ada saatnya...”
     “...Dan seharusnya, kedatangan Melody yang memang telah kurencanakan sebelum ‘saatnya’ itu datang, seharusnya kau memanfaatkannya! Tapi, di luar dugaan, kau malah membiarkan Melody hanya sekedar Melody”
     “Maksudmu?” tanya Bastian tak mengerti.
     “Ah, kedatangan Melody juga! Semua pasti ada akhiran. Akan ada saatnya kau akan kehilangan Melody” celoteh Rhyme, yang mengacuhkan pertanyaan Bastian barusan. “Kau bisa mengaitkan dua hal itu? Sebelum kau kehilangan sesuatu yang amat berarti bagimu lagi, kau harus mewariskan sesuatu. Wariskan sesuatu pada Melody yang akan membuatnya mengenangmu ketika ‘saatnya’ itu datang”
     “Aku benar-benar tak mengerti Rhyme!” tegas Bastian. Namun, apa daya, Rhyme dengan cepat pergi dari hadapan Bastian. “Rhyme... Rhyme! Rhyme!!” teriak Bastian, yang rupanya sedang bermimpi barusan. Ia membelalakkan matanya ketika menyadari pertemuannya dengan Rhyme itu hanyalah mimpi. Namun, mimpi itu terasa nyata baginya. Ya, terasa nyata...
***
“Aku pulang” ujar Bastian, begitu tiba kembali di gubuk tempat kediamannya.
     “Ayah! Kau kemana saja? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu...”
     Belum sempat Melody mengucapkan habis kalimatnya, Bastian telah menyodorinya sebuah kotak berukuran sedang. Pada kotak itu ada sebuah bulatan sedang juga, lalu ada serabut-serabut akar yang terasa begitu kuat menempel—menutupi bulatan itu. “Gitar” ucap Bastian, dengan sebuah senyuman.
     “Pergilah, Nak. Aku tak akan menahanmu lagi untuk mencari keberadaan orangtua kandungmu. Maafkan aku yang sudah terlalu memikirkan diriku sendiri. Aku hanya takut kehilangan hal yang sangat kusukai untuk kedua kalinya. Aku tak ingin kehilanganmu, seperti aku kehilangan kemampuanku dalam bermusik. Dan ini... gitar sederhana buatanku, untukmu. Aku harap kau akan mempelajari cara memainkannya, dan aku harap kau akan selalu membawa barang warisanku ini dalam perjalanan mencari kedua orangtuamu...”
     “Ayah... sungguh, jangan sesekali kau berpikiran aku ingin meninggalkanmu. Aku hanya ingin melihat seperti apa wujud kedua orangtuaku. Aku berjanji, aku akan segera kembali Ayah...”
     Melody yang telah diijinkan untuk mencari kedua orangtuanya oleh Bastian pun pergi melangkah—menjauhi gubuk yang telah didiaminya bertahun-tahun. Bastian melambaikan tangan mengantar kepergian Melody.
***
Kini, Bastian tinggal sendirian di gubuk tua itu. Tak ada yang bisa ia kerjakan selain bermalas-malasan di sebuah kursi goyang yang sudah terlihat rapuh. Sudah sekian tahun yang ia lewati, namun kedatangan Melody yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang.
     “Kalaupun kau tak kembali, anakku, Melody... tak apa. Sebenarnya kita selalu bersama karena gitar warisanku itu selalu bersamamu. Kita selalu bersama...” ucap Bastian.
     Tiba-tiba, sebuah instrumen sederhana terdengar mengalun begitu indah. Semakin lama, instrumen itu terdengar makin keras dan dekat. Bastian perlahan membuka matanya yang sempat terpejam, dan...
     “Ayah, aku kembali dengan gitar warisanmu!”
     “Melody?”
     “Ya, aku Melody, puterimu yang tak kalah pandai bermain musik darimu” balas Melody dengan sebuah senyuman merekah pada wajahnya. “Kau tahu Ayah? Aku benar-benar puterimu! Aku bahkan mewarisi kemahiranmu dalam bermusik. Apakah kau mau mendengarkan kemampuan bermusikku?”
     Melody pun memainkan gitarnya dan bernyanyi. Rhyme yang melihat pemandangan mengharukan ini dari kejauhan pun menggerakkan tongkat ajaibnya. Dubidurafa! Seketika, Bastian mulai dapat menggerakkan bibirnya dan bernyanyi. Gubuk kesepian ini telah kembali dihiasi dengan alunan musik indah sepasang ayah dan anak—yang sama-sama pemusik itu.
***
~ SELESAI ~

@Meutiakbachnar

Mei 10, 2012

#7HariMendongeng : Tersenyumlah Hana


" Tersenyumlah, Hana "
oleh Meutia Keumala Bachnar

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti #7HariMendongeng. Ini udah hari kedua. Temanya harta karun. Susah juga loh ternyata bikin dongeng. Ini bener-bener pertama kalinya buat saya bikin dongeng, jadi kalo agak nggak nyambung dan aneh, harap dimaklumi aja deh yaa ^^
_____________________________________________________________________________________________ 

Hari ini, pagi yang cerah telah menyapaku kembali. Dengan malas-malasan, aku beranjak dari atas kasur dan mulai membuka tirai jendela kamar untuk membiarkan sinar matahari menerangi kamarku yang gelap. “Hoaaahm”, sudah berulang kali aku menguap lebar. Dengan mata yang masih mengantuk, aku memaksakan diri untuk menjalani kehidupanku seperti hari-hari sebelumnya.
                Kenalkan, namaku Hana. Aku adalah seorang gadis manis berambut ikal yang hidup dalam dunia imajinasi, atau dunia komik lebih tepatnya. Dalam dunia komik ini, aku tinggal di sebuah perkampungan bernama Cherry Blossoms. Selama aku ‘ditakdirkan’ untuk menjadi Hana dan menjalani hari-hariku di Cherry Blossoms, jarang sekali aku mengeluhkan akan suatu hal. Mungkin, dulu pernah, saat pertama kali aku ‘diciptakan’ dan diharuskan tinggal sendirian. Namun, si pengarang komik—manusia yang menciptakan aku, adalah seorang yang baik. Selang dua hari dari hari ‘kelahiran’-ku, dia—si pengarang komik yang baik itu—memberikanku seorang teman. Namanya Arceri.
                Hari-hari yang kujalani terasa begitu sempurna semenjak kehadiran Arceri. Kepribadian menawan yang telah diciptakan untukku, pemandangan serta suasana nyaman di Cherry Blossoms, dan... Arceri, teman satu-satunya yang kupunyai di dunia ini. Arceri adalah seorang teman yang baik. Dia seorang gadis mungil—sama sepertiku—yang sangat anggun dan lembut. Rambutnya panjang-lurus-hitam, benar-benar mengindikasikan bahwa dia benar-benar anggun, bukan?! Benar-benar sempurna. Aku merasa beruntung atas nasibku yang terlahir sebagai Hana.
                Tapi... kesempurnaan itu tak selamanya menemaniku.
                Arceri harus pergi. Ya, harus. Nyawanya direnggut oleh peristiwa menyakitkan yang terjadi beberapa hari lalu, tepatnya saat Cherry Blossoms didatangi tamu tak diundang—badai Tornado besar. Tornado besar itu telah merusak semuanya; Cherry Blossoms, Arceri, dan kepribadianku!

***

Srek... srek... srek...
Aku terus menyapu halaman depan rumah dengan tatapan hampa. Ada begitu banyak daun maple yang berjatuhan dan memenuhi halaman depan rumah. Namun, aku terus menyapu pada satu titik dan membiarkan daun-daun maple lainnya tetap berserakan.
                “Eh?” ucapku, saat menyadari ada sehelai kertas yang menempel pada ujung sapu lidi yang tengah kupegang erat. Aku meraih kertas yang nampak usang itu. Ada beberapa kalimat yang ditulis dengan huruf tegak bersambung. “Astaga, ini tulisan Arceri! Iya! Siapa lagi yang bisa menulis di Cherry Blossoms selain aku dan Arceri?!”

Hana, sahabatku.
Aku senang tercipta sebagai Arceri yang ditakdirkan untuk menjadi sahabatmu. Aku ingin selamanya kita bersahabat, tapi... terkadang pikiranku selalu membuatku bertanya-tanya: Apakah semuanya akan seperti ini selamanya? Bagaimana jika suatu saat salah satu diantara kita; kau atau aku, harus pergi? Entah kenapa aku bisa berpikir seperti itu.
Tapi, Hana, pikiran itu... adalah pemikiran paling brilian yang pernah kupunya. Jadi, aku memutuskan untuk menyimpan sesuatu untukmu sebelum semua yang kupikirkan itu benar-benar terjadi. Anggap saja benda yang akan kuberikan padamu itu adalah harta karun.

                Hana tercengang. Ia tak percaya akan pemikiran Arceri yang benar-benar skeptis akan masa depan. Ia berhenti membaca kalimat demi kalimat yang ada pada kertas usang itu, kemudian mencari ‘sesuatu’ dimaksud Arceri sebagai ‘harta karun’ untuknya. Ia mengacak tumpukan daun maple yang telah menutupi rerumputan pada halaman rumahnya, sampai akhirnya menemukan sebuah benda.
                “Apa ini yang kau maksudkan, Arceri?” tanya Hana ragu, sambil memperhatikan cermin kecil yang tengah digenggamnya.

Aku memberikanmu cermin. Ya, cermin itulah yang kumaksud dengan ‘harta karun’. Maaf, aku tak menyimpan cermin ini pada sebuah kotak seperti harta karun pada cerita lainnya. Hahaha... Ah iya, Kau tahu, kenapa aku memberikanmu cermin, Hana? Setiap kali kau bercermin, kau akan menemukan dirimu kan? Kau akan menemukan seorang Hana, kan? Nah, saat kau menemukan dirimu sebagai Hana-lah, aku ingin kau sadar bahwa kaulah harta karun untukku.. Seorang sahabat periang yang selalu membuatku tertawa, namanya Hana.  
Ah, Aku benar-benar tak sabar untuk bertemu denganmu, Hana! Membayangkan wajahmu berseri-seri menerima hadiah pemberianku itulah yang membuatku penasaran dan membuatku ingin cepat-cepat memberikan semuanya ini padamu besok. Kau tunggu saja, ya.
Arceri.

                Hana tersenyum getir. Air mata telah memenuhi ruang kecil pada kelopak matanya. Cermin yang masih dipegangnya erat, kini diletakkan persis di hadapannya. Untuk beberapa lama, Hana membiarkan dirinya menangis di depan cermin yang diberikan oleh Arceri itu.
                “Arceri, kau juga adalah harta karun untukku. Kau juga harta karun untukku... Kau bahkan belum sempat memberikan semuanya ini padaku secara langsung...” ucap Hana lirih. Ia pun menyapu air mata yang telah sukses membanjiri kedua belah pipinya, lalu menatap cermin itu penuh makna.
                “Arceri, kau tahu...harta karun itu spesial. Karena aku harta karun bagimu, aku akan terus menjadi Hana yang spesial bagimu. Hana yang periang, dan tak pernah mengeluh. Andai sebelumnya aku sempat memikirkan hal yang sama denganmu... Aku juga ingin mengatakan kalau kau adalah harta karun bagiku, Arceri, sahabat yang paling kusayangi”
                Hana tersenyum dengan mata yang masih berkaca-kaca. Ia menghentikan kegiatan menyapunya, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah mungilnya. Ia menyimpan kertas usang serta cermin pemberian Arceri itu pada sebuah kotak berwarna cokelat.
“Semua tentangmu adalah harta karun, harus kusimpan dan kujaga dengan baik. Bukan begitu, Arceri?” ujar Hana, sambil menyimpan kotak ‘harta karun’ itu di atas meja belajarnya. 
Tersenyumlah, Hana :)

***


Mei 04, 2012

#ProyekFabel : The Bird and The Worm

 
"THE BIRD AND THE WORM"
by Meutiakbachnar

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti #proyekfabel yang dicetuskan oleh @bintangberkisah. Terinspirasi dari lagu Owl City dengan judul sama, The Bird and The Worm, dan dibuat dalam waktu yang sangat singkat. Oleh karena itu, harap dimaklumi kalau ada typo atau agak nggak jelas gimanaa gitu. Ah iya pemilihan genre romance di cerita ini random yaa.. tiba-tiba kepikiran aja gitu hehehe.. Oke deh, hehe, langsung cekdisaut aja kali yee~

Sinar mentari pagi ini mulai terasa di kulitku. Terik, panas sekali, dan aku sangat sangat membenci ini semua. Namun, terkadang, waktu-waktu seperti inilah yang membuatku tahu bagaimana berkorban demi sesuatu yang kita cintai. Burung. Ya, aku mencintai seekor burung pipit imut yang selalu mematuk-matukkan paruhnya ke dalam tanah—sampai-sampai merusak habitatku. Lalu... mungkin kau bertanya, siapa aku?
            Hai, aku adalah cacing tanah. Banyak yang bilang, cacing itu hemaprodit alias berkelamin ganda. Lantas, kenapa aku bisa mencintai seekor burung pipit betina? Jawabannya simpel, aku tak tahu. Rasa cintaku ini timbul begitu saja padanya—ya, kepada si burung pipit imut itu.
            Aku menggeliat lagi untuk kesekian kalinya—aku benar-benar tak tahan dengan sengatan sinar mentari pagi ini! Benar-benar terik dan membuatku kepanasan! Dari kejauhan, teman-temanku—yang juga merupakan para cacing—datang menghampiriku.
            “Kau menunggunya? Lagi?” tanya salah satu diantara mereka.
            Aku malas menjawab pertanyaan yang sudah sering mereka lontarkan padaku. Aku hanya terus menggeliat melawan panasnya sinar mentari.
            “Yah, kau harus sadar. Kau adalah seekor cacing”
            Lagi, salah satu diantara mereka, mulai menambahkan perkataan sebelumnya. Aku mulai geram, namun aku tak ingin dikalahkan oleh emosi. Diam—itulah jalan yang tepat dalam menghadapi cercaan mereka semua.
            “Kau tahu kan, kebiasaan si Burung Pipit Pujaanmu itu apa?” kini sebuah pertanyaan terlontar untukku. Aku membalikkan badanku sebentar. “Burung Pipit Pujaanmu itu senang sekali mengorek habitat kita. Dan kau tahu untuk apa ia melakukannya? Untuk memangsamu! Tidakkah kau menyadari itu?”
            “Sudahlah, lupakan saja khayalan tingkat tinggimu itu”
            “Ya, benar, karena suatu saat Burung Pipit yang kau cintai itu akan merenggut nyawamu”
Sungguh, sungguh aku tak akan peduli dengan ucapan teman-temanku. Aku terus menunggu pujaanku datang. Aku terus berdiam diri disini, masih di tempat yang sama. Kulitku sudah hampir terbakar, hari ini panas bukan main! Tapi, dia, si Burung Pipit rupawan yang telah membuatku terpesona itu tak kunjung datang. Ada apa dengannya?
            Teriknya matahari berganti dengan tetesan air hujan yang perlahan mengobati rasa sakit di sekujur tubuhku. Hujan, pikirku. Aku menyeruak masuk ke dalam tanah, kembali pada habitatku dan menikmati suasana yang seharusnya kusukai. Tapi untuk saat ini, untuk hari ini, aku tak peduli dengan hujan. Hanya satu inginku, dia.
***
Cit...cit...cit...
Suara berisik namun beraturan itu membangunkanku. Hei, bukankah itu suara si Burung Pipit? Dengan cepat, aku menggerakkan sekujur tubuhku untuk sampai ke permukaan tanah. Ah, akhirnya. Setidaknya kerinduanku padamu di hari kemarin akan segera terobati, wahai Burung Pipit-ku.
            Alangkah senangnya hari ini. Dia berada di tengah-tengah kumpulan burung pipit lainnya. Mereka semua berjejer rapih pada sebuah kabel tiang listrik dan mulai memamerkan kebolehannya dalam bersiul. Cit... cit... cit... Aku hanya memandang lurus ke arahnya. Dia nampak tak begitu bersemangat hari ini, suara cicitannya terdengar lebih lembut—bahkan lebih tepatnya terdengar begitu lemah. Ada apa denganmu, Burung Pipit?
            Dari kejauhan kau tampak mengepakkan sayapmu dan bergegas untuk menyusul teman-temanmu yang sudah terbang ke langit luas. Tunggu! Kulihat ada sebuah warna mencolok dari balik sayap indahmu... merah darah?
            Dia terluka.
            Inikah cinta? Saat kau terluka, aku juga akan ikut merasakannya?
            Kini aku menatap kepergiannya dengan penuh kekhawatiran. Kuharap kau akan segera pulih. Kuharap kau akan baik-baik saja, Pujaanku.
***
“Hei, bangun! Ayo bangun!”
            Aih, siapa sumber keributan di pagi ini?, tanyaku kesal. Aku keluar dari tempat favoritku dan bergerak menuju sumber suara yang telah sukses membuatku kesal di pagi ini. Seekor cacing—temanku, tengah sibuk berkoar-koar berteriak memberi pengumuman kepada sekumpulan cacing yang lainnya.
            “Tadi sudah ada teman kita yang dimangsa oleh burung-burung pipit itu! Ayo, segera selamatkan diri kalian masing-masing” serunya lagi, membuat seluruh cacing panik—terkecuali aku. Begitu mendengar kata ‘burung pipit’, aku langsung senang bukan main. Bukannya menyelamatkan diri dari ancaman yang menyangkut soal hidup-mati itu, aku malah menggerakkan badanku untuk segera mencapai permukaan tanah.
            “Kau, selamatkan diri—“
            Cit! Sesuatu yang sangat runcing menusuk badanku. Tubuhku terhimpit pada dua buah benda runcing itu. Dua buah benda runcing itu lalu mengangkatku tinggi dan mengantarkanku pada dua buah benda runcing lainnya. Aku sempat melakukan perlawanan, sampai akhirnya... K-Kau? Kau, bukankah kau Burung Pipit Pujaanku...?
            Hap! Semua gelap. Dapat kurasakan tubuhku yang tak lagi sempurna. Ada sedikit rasa sakit saat tubuhku mulai terombang-ambing di dalam mulutnya—si Burung Pipit Pujaanku. Ia nampak menikmati aku. Perlahan... tapi pasti... aku pun menghilang.
            Tak akan ada lagi saat-saat yang membuatku khawatir dengan sebuah pertanyaan ‘Apakah hari ini aku bisa melihatmu?’.
            Tak akan ada lagi pengorbananku melawan panasnya sinar mentari hanya untuk bertemu denganmu.
            Namun, aku senang. Kau tahu kenapa? Karena aku hilang untuk menyatu denganmu, Wahai Burung Pipit Pujaanku. Karena aku hilang untuk membuatmu kembali bercicit dengan penuh semangat.
            Inilah caraku, seekor Cacing Buruk Rupa dalam mencintai sesuatu yang sangat tidak mungkin. Ya, kamu, Wahai Burung Pipit-ku.  
~ SEKIAN ~

Sumber gambar dari sini

Maret 25, 2012

Ada yang mau baca postingan ini?

Assalamu'alaikum. Hei Blog, saya balik lagi dengan postingan baru lho! Kamu pasti udah nggak sabaran, iya kan? Yak, kamu pasti udah nggak sabaran pengen ngusir saya saking bosennya karena udah hampir rutin kembali saya buka kamu. Ehehehe. Tapi nggak apa-apa kali yaa, ada baiknya juga saya mulai rutin lagi bermanja-manja sama diary online yang udah nampung segudang sampah sejak tiga taun yang lalu. Hmmm... kali ini, saya nggak bakalan bikin postingan yang #RandomAbis atau #AntiKlimaks, karena postingan ini sebenernya postingan PR dari kak Ayi alias Kak Ummul Khairi. Hehehe, itung-itung kamu jadi sering ter-isi, Blog. Kira-kira ada yang mau baca nggak ya, postingan ini?

Di postingan ini, saya mau bilang--atau lebih tepatnya pamer *jangan ditiru*--kalo saya dikasih award sama Kak Ayi. Nama award-nya adalah The Versatile Blogger. Dan jujur, sampe sekarang, walaupun di HP saya ada dictionary, saya masih belom tau apa itu arti dari Versatile. Yang penting seneng ajalah dulu karena jarang-jarang juga dapet award. Kasiaan yaaak. Hehe. Nah, karena saya dapet award ini, saya diminta untuk buat sebuah postingan yang isinya adalah mendeskripsikan 7 hal tentang saya. Kira-kira begitu kali ya... Iya kan, Kak Ayi? Iya-in ajalah yaaa. 

Oke deh, tanpa banyak bacot lagi, inilah tujuh hal yang akan saya deskripsikan tentang saya, seorang Meutia Keumala Bachnar.

  1. Saya senang karena lahir dengan nama Meutia Keumala Bachnar. Nama yang cukup unik dan satu kesatuan nama Meutia Keumala Bachnar di dunia itu cuma satu, cuma saya. Gak percaya? Coba deh cari di Facebook, pasti yang keluar cuma profile saya. Saya udah nyoba ini sekitar setaun yang lalu. Dan anehnya nih ya, kebanyakan orang, kalo denger nama saya suka nebak gini: 'Bachnar itu nama keluarga ya?' atau 'Bachnar itu nama Ayah ya?' atau 'Bachnar itu nama Kakek ya?'. Tapi tebakan itu semuanya salah. Bachnar itu *setahu saya* adalah nama buyut saya (Buyut itu: Kakeknya Ayah saya, kira-kira begitu). Saya tahu ini sekitar tiga taun yang lalu, pas Lebaran dan pulang ke kampung halaman Ayah saya, di Labuhanhaji. Ada seorang nenek yang langsung bertanya sama Ayah saya, kira-kira beginilah yang beliau ucapkan: 'Mana anak perempuan yang dikasih nama Bachnar itu?'. Pokoknya nama saya ini unik, spesial, dan penuh makna banget (buat saya). Karena nama ini jugalah, saya ngerasa kalau saya ini orang yang spesial. Makanya, jangan main-main ya sama nama saya ;) Hehe
  2. Masih soal nama nih! Saya bangga banget dikasih kesempatan buat menamai adik saya sendiri. Yep, Ainal Fajri Malahayati. Itulah nama adik saya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Dulu, waktu dikabarin kalau saya akan punya adik lagi, saya bener-bener seneeeeng dan sibuk nyari nama buat si adek. Kebetulan, waktu dulu itu saya masih kelas 5 SD dan mulai belajar bahasa Arab. Penggalan nama Ainal itu saya ambil dari bahasa Arab untuk mata. Sedangkan Fajri saya ambil karena saya inget banget, waktu lebaran beberapa taun yang lalu saya baca surat Fajr, dan Malahayati? Nama Malahayati itu terinspirasi dari sebuah lomba yang pernah saya ikuti bersama dua teman SD saya, Ferdi dan M.Arsy. Waktu itu, ada sebuah pertanyaan seperti ini: Siapakah laksamana perempuan  pertama tangguh dari Aceh? Dan saat itu, nggak ada yang bisa menjawab. Sampai akhirnya saya menjawab dengan ragu-ragu. "Malahayati"--jawaban ini yang membuat skor buat grup saya bertambah ehehe. Jadi, kira-kira makna dari Ainal Fajri Malahayati itu adalah cahaya mata seorang pahlawan. Dan Alhamdulillah doa yang tersirat di balik nama itu udah jadi kenyataan. Ainal emang selalu jadi pahlawan buat saya dan semua anggota keluarga saya. Dia selalu ceria dan selalu ngebuat kami senang ^^. We love you, dek Enal... eh dek Ainal :)
  3. Saya suka menulis. Tentu aja bukan menulis pake pulpen atau alat tulis lainnya. Saya suka nulis, suka ngebuat cerita dengan fasilitas laptop/komputer. Awal cerita kenapa saya bisa suka nulis adalah waktu saya baca novel Ghostbumps *bener gak sih nulisnya*, saya jadi terinspirasi buat cerita bergenre serem. Dan waktu itu, orang pertama yang ngeliat karya perdana saya adalah Teteh. Beliau adalah penjaga perpustakaan di SD saya dulu. Teteh bilang, tulisan saya bagus. Malah, dia meminta saya buat bikin cerita-cerita lainnya, kalau sudah banyak, nanti bakal dijilid (dibentuk menjadi sebuah buku berisi kumpulan cerita) yang akan ditaruh di rak perpus. Makanya, saya jadi suka nulis deh ;)
  4. Banyak orang bilang saya lemah. Dan itu memang benar.
  5. Tapi di balik image lemah itu, saya suka musik bergenre rock, tapi masih tetep easy listening. Yeeaaah! Saya suka L'Arc~en~Ciel, The Click Five, dan yang masih anget-angetnya CNBLUE. Pernah nih ya, waktu saya berkunjung ke Kokem (Kota Kembang) buat nyari MP3 Laruku, saya minta buat diputerin buat ngecek kualitas suaranya sama abang penjual MP3-nya. Waktu itu saya perginya sama Mamah, jadi gak heran deh Mamah saya juga denger lagu-lagu Laruku. Awalnya Mamah saya diem aja. Sampe yang kedua kali, pas abang penjualnya nyetel lagu 30 Second To Mars buat saya, Mamah saya langsung berkomentar: "Cadas banget si Kakak lagunya". AHAHAHA. Cadas men, cadas!
  6. Saya pernah meragukan guru SD saya gara-gara masalah Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam. Ini nggak bakal saya ceritain lebih lanjut, panjang banget ceritanya.
  7. Entah kenapa, saya selalu tertarik dengan hal-hal yang menyinggung soal First Love. *curhat dikit boleh kali ya*. Beneran deh, nggak tau kenapa. Tiap bingung mau beli kaset film baru, yang diliat pasti sinopsisnya kan? Nah, kalo sinopsisnya ada menyinggung soal First Love, saya pasti langsung beli *kalo ada duit*. Kayak waktu beli film FLIPPED. Hal yang sama juga terjadi buat komik ataupun hal-hal lain. Hahaha, aneh banget kan,ya?
Woooiiish, selesai juga deh mendeskripsikan saya dalam tujuh hal. Itu baru sebahagian kecil loh dari diri saya. Hahaha. Mau tau sebahagian besar tentang diri saya? Semuanya ada di blog ini, karena semua yang saya tulis itu saya banget *PROMOSI MAKSIMAL*. Daaaan, PR ini akan saya lanjut-bebankan kepada beberapa blogger yang sering saya intip blognya, diantaranya adalah:

Jangan lupa ambil awardnya juga yaaa, ini dia awardnya :


Baiklah, pamit dulu yaaa mau siap-siap liat MV baru CNBLUE neeh. Bubye blogg!!
Meutiakbachnar :)

Maret 24, 2012

Our Very First Time!!

Assalamu'alaikum. Hei, Blog! Akhirnya saya mulai ngisi kamu lagi.
Kali ini saya mau nyeritain pengalaman pertama yang baru saya dapat seminggu yang lalu, dan fyi, pengalaman ini nggak bakalan dilupain deh *ceilee*. 

Jadi, Blog, kamu tau kan kalau saya sempat bergabung dalam suatu organisasi mahasiswa dan bergelut di suatu bidang yang dulu disebut sebagai bidang 'Public Relation'. Bekerja sebagai staff *bahasanyaah* dalam bidang tersebut memang nggak gampang; kita diharuskan untuk menjadi orang yang up-to-date akan segala sesuatu hal yang terjadi di sekitar kita. Bukan cuma itu aja, sebulan (minimal) sekali kami harus menyiapkan mading alias majalah dinding, membuat sekian cardsending jika hari-hari besar telah tiba, dan lain sebagainya. Kesibukan itu untungnya nggak cuma saya lalui sendiri, saya punya teman yang selalu setia bersama saya. Sebut saja namanya Nidia Ulfa alias Kanid dan Bang Ayasi *itu mah nama asli -_-*. Kebetulan, dulu Kanid itu adalah sekretaris, saya ketua, dan Bang Ayasi adalah koordinator kami. Selama beberapa bulan itu kami terus bekerja sama untuk membuat bidang Public Relation itu 'hidup' *bahasanyaaah*.

Yak itu cuma intermezzo aja sih.. jadi cerita utamanya gini...

Seminggu yang lalu, atau... hari Sabtu minggu kemarin, saya dan Kanid diminta untuk membagi pengalaman kami sebagai anggota Public Relation kepada pengurus Public Relation tahun ini--sekarang nama Public Relation itu sudah diganti jadi KOMINFO kalau nggak salah. (Fyi, kepengurusan saya dan Kanid sudah berakhir saat ini). Akhirnya kami berdua menyetujui permintaan adik leting saya yang bernama Fadhli (yang sekarang telah menggantikan posisi saya sebagai Ketua Bidang/Departemen KOMINFO). Kami pun sudah standby di sebuah bangunan tua yang dulu sering saya sebut sebagai Kantor PEMAF. ^^

Kami datang sangaaaat ontime, yah memang begitu kan ciri orang sukses? (Baru sekali ontime aja udah belagu hahaha). Dan saat itu, para pengurus tengah disibukkan oleh suatu hal yang saya sendiri nggak tau pasti apakah suatu hal itu. Jadi, kami memilih untuk menunggu diluar. Beberapa menit kemudian (kalo nggak salah nyampelah yaa sekitar setengah jam kami menunggu), Fadhli mempersilakan kami masuk ke ruang rapat yang kondisinya masih sama seperti kepengurusan tahun lalu. 

Kami duduk. Acara pun dibuka oleh sepatah-dua patah kata yang diucapkan oleh Kak Harsa selaku koordinator bidang KOMINFO untuk kepengurusan tahun ini. Dan pas mendengar ucapan Kak Harsa, saya sama Kanid cuma bisa bengong. Apalagi waktu Kak Harsa sempat bilang (kalau nggak salah) seperti ini: "...Jadi disini akan kita mulai pelatihan jurnalistik bersama alumni bidang Public Relation..."--kira-kira begitulaah. Jelaslah, saya sama Kanid melongo, membelalakkan mata, dan saling menatap satu sama lain. Setelah Kak Harsa selesai membuka acara yang lebih pantas disebut sebagai ajang sharing itu, saya sama Kanid pun mulai memperkenalkan diri. 

Kami memperkenalkan diri masih dengan gaya yang bener-bener 'kami banget'. Ketawa-ketiwi, cengengesan, mungkin sebagian diantara pengurus yang ikut menyaksikan kami udah dongkol di dalam hati. Mungkin mereka ngedumel dalam hati kayak gini, "Gila, katanya pemateri. Tapi urakan gini. Pematerinya bener pemateri nggak sih?" dan mungkin... *mungkin loh yaa* kalo suara hati mereka itu bisa saya tanggapi, akan saya tanggapi seperti ini, "Adik-adik yang manis, kami bukan pemateri. Kami cuma alumni bidang Public Relation. Jadi maaf-maaf aja yah... Ehehehe" 

Hampir sejam lebih kami mengubah konsep acara yang mungkin telah dijadwalkan sebagai acara pelatihan menulis menjadi acara curcol kami mengenai semua keluh kesah, cerita suka duka selama kami berkecimpung di bidang Public Relation. Dan ketika kami nggak tahu harus ngomong apa lagi, kami pun menawarkan para pengurus baru itu untuk bertanya. Sedihnya, hanya Fadhli dan satu orang pengurus baru yang bertanya T_T. Tapi nggak apa-apa, that's fine--daripada nggak ada sama sekali, ya kan? HAHAHA.

***

Setelah selesai mengisi acara tersebut *eciyee* kami berdua bener-bener nggak sanggup menahan rasa malu dan gelak tawa yang udah kami tahan selama sejam lebih itu. Di perjalanan pulang, saya sama Kanid puas-puasin ketawa dan nggak berhenti mengingat betapa konyolnya tingkah laku kami berdua di depan para pengurus baru. Tapi... seenggaknya, kami sudah berusaha keras dan berani mencoba, kan? Ini adalah kali pertama kami disebut sebagai seorang pemateri. Sangat memalukan, tapi juga sangat menyenangkan. Menjadi pemateri amatir dan jadi-jadian seperti kami itu secara nggak langsung mengasah kemampuan public speaking yang kami punya. Jadi, semoga aja kedepannya, kalau ada yang mengundang saya, Kanid, atau kami berdua (LAGI!!) menjadi 'pemateri' kami akan sangat senang *bahasaanyaaah*.

Sekian blog, maaf lagi-lagi kalau ceritanya #RandomAbis dan #AntiKlimaks. Yang penting saya nulisin cerita ini dengan penuh kasih sayang untukmu, Blog *eaaa*. Akhir kata, saya pamitan dulu dan bakal balik lagi dalam beberapa jam kedepan. 

Meutiakbachnar, :)

Useless Knowledge

Ada kesalahan di dalam gadget ini