“Gitar Melody”
oleh Meutia
Keumala Bachnar
Lagi! Ini udah hari ke-3 dan ini udah kedua kalinya
saya ikutan proyek #7HariMendongeng. Di hari ketiga ini temanya adalah barang
warisan. Mungkin kali ini lebih matang karena saya mikir idenya dari pagi
sampai jam 8 malem tadi, tapi gak tau deh seperti apa jadinya cerita dongeng
satu ini. Fyi aja, saya bikin ini terinspirasi abis ngeliat sosok artis Korea
yang debut di Jepang. Namanya Juniel. Dia menginspirasi saya buat nyiptain
tokoh Melody disini. Dan sekedar rekomendasi aja, dengerin lagu Juniel –
Falling in Love atau Juniel – Like a Star karena saya buat cerita ini sambilan
dengerin tuh dua lagu ^^~
____________________________________________________________________
Pada suatu hari
di sebuah gubuk tua di kaki gunung Mounty, hiduplah seorang kakek tua bernama
Bastian. Bastian dulunya adalah seorang musisi jalanan kota Archel yang banyak
dikenal orang karena kemahirannya dalam menjadikan benda apa saja sebagai alat
pengiring musiknya. Tapi seiring pertambahan usia, perlahan tubuh Bastian melemah
dan jatuh sakit—hingga membuatnya tak dapat bermain musik lagi.
Pada umurnya yang telah menginjak tiga
perempat abad itu, Bastian hanya ditemani oleh seorang anak angkat perempuan
yang diberinya nama Melody. Melody hadir dalam kehidupan Bastian sejak ia masih
sangat kecil. Kedua orangtua kandung Melody menitipkannya di depan pintu rumah
Bastian kala itu. Bastian, yang tak tega untuk membiarkan Melody hidup sendiri,
memutuskan untuk merawatnya. Dengan penuh kasih sayang, Bastian pun merawat
Melody sampai sekarang—Melody telah tumbuh menginjak masa remajanya.
***
“Ayah” panggil
Melody di pagi itu, membuat Bastian menolehkan kepala ke arah suara lembut yang
baru saja menyapanya tadi. “Apa yang sedang kau lakukan di luar, Ayah? Bukankah
diluar sangat dingin? Nanti kau bisa sakit”
Bastian tersenyum dan beranjak bangun dari
kursi goyang yang sudah didudukinya sejak dua jam yang lalu. Sambil berjalan ke
arah Melody, Bastian pun menjawab. “Salahmu sendiri. Kau bangun terlambat lagi,
Melody. Ayah harus menunggumu untuk membuat teh di pagi buta ini”
“Ah, maaf Ayah, semalam aku tidak bisa
tidur...”
Bastian merangkul bahu anak angkatnya itu,
mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam gubuk yang mereka huni, lalu duduk
berhadapan pada sebuah bangku tempat mereka makan setiap harinya.
Pagi ini, Melody memasakkan telor mata sapi
kesukaan Bastian, ayah angkatnya. Bukan hanya itu saja, Melody bahkan
membuatkan teh dengan campuran bunga melati untuk Bastian. Bastian memandangi
sarapan favoritnya yang tersaji di atas meja saat itu, lalu bertanya, “Apakah
hari ini ada sesuatu yang spesial, Anakku?”
Melody yang tengah menuangkan teh dengan
aroma melati ke dalam gelas milik Bastian memilih untuk diam sebentar. Setelah
duduk, Melody pun menjawab pertanyaan Bastian—tanpa memandangi ayah angkatnya
itu. “Ayah... Aku... Aku sangat senang tinggal bersamamu. Tapi, aku benar-benar
ingin tahu bagaimana keadaan kedua orangtuaku saat ini...”
Bastian menghentikan semua kegiatan yang ia
lakukan saat itu. Ia beranjak pergi meninggalkan Melody sendirian di meja
makan. Ia merenung kembali di kursi goyang yang ada di teras gubuknya. “Tsk...
Setelah kehilangan seluruh kemampuan bermusikku, apakah aku harus kehilangan,
Melody-ku?”
Bastian melangkah pergi meninggalkan
kediamannya. Ia berjalan jauh menyusuri padang rumput luas yang ada di kaki
gunung Mounty. Setelah lama berjalan, Bastian memilih untuk merebahkan badannya
di bawah sebuah pohon beringin besar. Perlahan, matanya mulai tertutup dan ia
mulai terbawa ke alam mimpi.
***
“Bastian, tak
seharusnya kau menahan Melody”
Suara lembut itu mampir ke telinga Bastian.
Ia menoleh, “S-Siapa k-kau?”
“Aku adalah seorang peri” sesosok makhluk
mungil bersayap itu mulai terbang mengelilingi Bastian. “Namaku Rhyme. Aku peri
musik, akulah yang memberimu kesempatan untuk merasakan nikmatnya bermusik”
“—Lalu, setelah kau memberikannya padaku,
kenapa kau malah mengambilnya kembali?” tanya Bastian, memotong pembicaraan
Rhyme, si Peri Musik.
Rhyme tertawa. “Bastian... Bastian...
Segala sesuatu memiliki akhiran. Kalau pada awalnya kau jago bermusik, ada
saatnya kau kehilangan itu. Ya, ada saatnya...”
“...Dan seharusnya, kedatangan Melody yang
memang telah kurencanakan sebelum ‘saatnya’ itu datang, seharusnya kau
memanfaatkannya! Tapi, di luar dugaan, kau malah membiarkan Melody hanya
sekedar Melody”
“Maksudmu?” tanya Bastian tak mengerti.
“Ah, kedatangan Melody juga! Semua pasti
ada akhiran. Akan ada saatnya kau akan kehilangan Melody” celoteh Rhyme, yang
mengacuhkan pertanyaan Bastian barusan. “Kau bisa mengaitkan dua hal itu?
Sebelum kau kehilangan sesuatu yang amat berarti bagimu lagi, kau harus
mewariskan sesuatu. Wariskan sesuatu pada Melody yang akan membuatnya
mengenangmu ketika ‘saatnya’ itu datang”
“Aku benar-benar tak mengerti Rhyme!” tegas
Bastian. Namun, apa daya, Rhyme dengan cepat pergi dari hadapan Bastian. “Rhyme...
Rhyme! Rhyme!!” teriak Bastian, yang rupanya sedang bermimpi barusan. Ia
membelalakkan matanya ketika menyadari pertemuannya dengan Rhyme itu hanyalah
mimpi. Namun, mimpi itu terasa nyata baginya. Ya, terasa nyata...
***
“Aku pulang”
ujar Bastian, begitu tiba kembali di gubuk tempat kediamannya.
“Ayah! Kau kemana saja? Aku benar-benar
mengkhawatirkanmu...”
Belum sempat Melody mengucapkan habis
kalimatnya, Bastian telah menyodorinya sebuah kotak berukuran sedang. Pada
kotak itu ada sebuah bulatan sedang juga, lalu ada serabut-serabut akar yang
terasa begitu kuat menempel—menutupi bulatan itu. “Gitar” ucap Bastian, dengan
sebuah senyuman.
“Pergilah, Nak. Aku tak akan menahanmu lagi
untuk mencari keberadaan orangtua kandungmu. Maafkan aku yang sudah terlalu
memikirkan diriku sendiri. Aku hanya takut kehilangan hal yang sangat kusukai
untuk kedua kalinya. Aku tak ingin kehilanganmu, seperti aku kehilangan
kemampuanku dalam bermusik. Dan ini... gitar sederhana buatanku, untukmu. Aku
harap kau akan mempelajari cara memainkannya, dan aku harap kau akan selalu
membawa barang warisanku ini dalam perjalanan mencari kedua orangtuamu...”
“Ayah... sungguh, jangan sesekali kau
berpikiran aku ingin meninggalkanmu. Aku hanya ingin melihat seperti apa wujud
kedua orangtuaku. Aku berjanji, aku akan segera kembali Ayah...”
Melody yang telah diijinkan untuk mencari
kedua orangtuanya oleh Bastian pun pergi melangkah—menjauhi gubuk yang telah
didiaminya bertahun-tahun. Bastian melambaikan tangan mengantar kepergian
Melody.
***
Kini, Bastian
tinggal sendirian di gubuk tua itu. Tak ada yang bisa ia kerjakan selain
bermalas-malasan di sebuah kursi goyang yang sudah terlihat rapuh. Sudah sekian
tahun yang ia lewati, namun kedatangan Melody yang ditunggu-tunggunya tak
kunjung datang.
“Kalaupun kau tak kembali, anakku,
Melody... tak apa. Sebenarnya kita selalu bersama karena gitar warisanku itu
selalu bersamamu. Kita selalu bersama...” ucap Bastian.
Tiba-tiba, sebuah instrumen sederhana
terdengar mengalun begitu indah. Semakin lama, instrumen itu terdengar makin
keras dan dekat. Bastian perlahan membuka matanya yang sempat terpejam, dan...
“Ayah, aku kembali dengan gitar warisanmu!”
“Melody?”
“Ya, aku Melody, puterimu yang tak kalah
pandai bermain musik darimu” balas Melody dengan sebuah senyuman merekah pada
wajahnya. “Kau tahu Ayah? Aku benar-benar puterimu! Aku bahkan mewarisi
kemahiranmu dalam bermusik. Apakah kau mau mendengarkan kemampuan bermusikku?”
Melody pun memainkan gitarnya dan
bernyanyi. Rhyme yang melihat pemandangan mengharukan ini dari kejauhan pun
menggerakkan tongkat ajaibnya. Dubidurafa!
Seketika, Bastian mulai dapat menggerakkan bibirnya dan bernyanyi. Gubuk
kesepian ini telah kembali dihiasi dengan alunan musik indah sepasang ayah dan
anak—yang sama-sama pemusik itu.
***


